MATARAM-Pemilihan Gubernur NTB Tahun 2018 semakin dekat. Hiruk pikuk pesta demokrasi untuk menentukan gubernur dan wakil gubernur periode 2018-2023 mulai terdengar. Sejumlah nama calon sudah muncul. Mulai dari baliho yang dipasang di pertigaan jalan, hingga publikasi di media massa. Para calon ini berlomba mendapatkan simpati publik untuk menjadi orang nomor satu di NTB.
Berdasarkan hasil Media Survei Nasional (Median) pada tanggal 27 April-5 Mei 2017, ada delapan tokoh yang paling populer di NTB dengan popularitas lebih dari 25 persen. Kedelapan tokoh tersebut yaitu
Adapun tokoh lainnya seperti Mori Hanafi, TGH Hasanain Djunaini, Johan Rosihan, Hj Siti Rohmi Djalilah, Nurdin Ranggabarani, Lalu Rudi Irham Srigede, Syamsul Rizal dan H Muazim Akbar, angka popularitasnya masih di bawah 17 persen.
Sedangkan dari segi elektabilitas atau tingkat keterpilihan, Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT unggul sementara di angka 15,0 persen, disusul Bupati Lombok Timur H Ali BD 11,0 persen, Anggota DPD RI Farouk Muhammad 9,7 persen, Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh 9,6 persen, Bupati Sumbawa Barat KH Zulkifli Muhadli 5,5 persen, disusul anggota DPR RI Zulkiflimansyah 5,0 persen.
Direktur Eksekutif Median Rico Marbun menjelaskan, data tersebut menjelaskan bahwa kontestasi antar kandidat dalam Pilgub NTB 2018 masih sangat terbuka. Hal ini dikarenakan belum ada tokoh yang memiliki popularitas di atas 50 persen.
Berdasarkan hasil Media Survei Nasional (Median) pada tanggal 27 April-5 Mei 2017, ada delapan tokoh yang paling populer di NTB dengan popularitas lebih dari 25 persen. Kedelapan tokoh tersebut yaitu
- H Ali bin Dahlan 39,5 persen,
- HM Suhaili, FT 38,0 persen,
- Farouk Muhammad 37,7 persen,
- H Muhammad Amin 37,5 persen,
- H Ahyar Abduh 37,0 persen,
- Lalu Gede Sakti 32,0 persen,
- Zulkiflimansyah 30,0 persen, dan
- KH Zulkifli Muhadli 27,5 persen.
Adapun tokoh lainnya seperti Mori Hanafi, TGH Hasanain Djunaini, Johan Rosihan, Hj Siti Rohmi Djalilah, Nurdin Ranggabarani, Lalu Rudi Irham Srigede, Syamsul Rizal dan H Muazim Akbar, angka popularitasnya masih di bawah 17 persen.
Sedangkan dari segi elektabilitas atau tingkat keterpilihan, Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT unggul sementara di angka 15,0 persen, disusul Bupati Lombok Timur H Ali BD 11,0 persen, Anggota DPD RI Farouk Muhammad 9,7 persen, Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh 9,6 persen, Bupati Sumbawa Barat KH Zulkifli Muhadli 5,5 persen, disusul anggota DPR RI Zulkiflimansyah 5,0 persen.
Direktur Eksekutif Median Rico Marbun menjelaskan, data tersebut menjelaskan bahwa kontestasi antar kandidat dalam Pilgub NTB 2018 masih sangat terbuka. Hal ini dikarenakan belum ada tokoh yang memiliki popularitas di atas 50 persen.
Selain itu, Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan kandidat, khususnya untuk menaikkan popularitasnya. “Mengingat popularitas merupakan modal paling dasar yang harus dimiliki oleh para kandidat guna meraih dukungan yang optimal,” katanya.
Belum lagi jika melihat tingkat elektabilitas yang relatif berimbang, dimana gap dibawah lima persen dengan elektabilitas tertinggi di angka 15 persen. Maka dapat disimpulkan, selama periode dilakukan pengambilan data, belum ada satu pun kandidat yang mendominasi kompetisi. Sehingga semua tokoh masih memiliki peluang yang relatif sama untuk memenangkan kontestasi.
“Peluang akan tergantung bagaimana agresivitas mereka dalam melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada publik,” ungkapnya.
Survei opini publik ini dilakukan Median pada tanggal 27 April-5 Mei 2017. Dilakukan terhadap 800 warga Provinsi NTB yang memiliki hak pilih, dengan margin of error sebesar kurang lebih 3,4 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel diambil secara acak dari seluruh wilayah kabupaten/kota yang ada di Provinsi NTB.
Selain popularitas dan elektabilitas kandidat, Median juga menggali masalah prioritas yang menurut publik harus segera di selesaikan di NTB. Berdasarkan hasil survei yang didapatkan, masalah yang paling penting harus diselesaikan di Provinsi NTB adalah perbaikan dan pelebaran jalan 20,3 persen, pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum 9,0 persen, perbaikan gang 5,5 persen, masalah irigasi 5,5 persen, dan kebersihan lingkungan 4,5 persen.
“Ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur masih menjadi PR utama bagi gubernur NTB ke depan,” ujarnya.
Kandidat yang mampu memberikan tawaran solusi dan program pembangunan dan perbaikan infrastruktur akan memiliki peluang untuk meraih simpati publik. Karena pemimpin dipilih oleh publik untuk menyelesaikan masalah publik dan membangun NTB lebih baik lagi.
Lombokpost
Belum lagi jika melihat tingkat elektabilitas yang relatif berimbang, dimana gap dibawah lima persen dengan elektabilitas tertinggi di angka 15 persen. Maka dapat disimpulkan, selama periode dilakukan pengambilan data, belum ada satu pun kandidat yang mendominasi kompetisi. Sehingga semua tokoh masih memiliki peluang yang relatif sama untuk memenangkan kontestasi.
“Peluang akan tergantung bagaimana agresivitas mereka dalam melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada publik,” ungkapnya.
Survei opini publik ini dilakukan Median pada tanggal 27 April-5 Mei 2017. Dilakukan terhadap 800 warga Provinsi NTB yang memiliki hak pilih, dengan margin of error sebesar kurang lebih 3,4 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel diambil secara acak dari seluruh wilayah kabupaten/kota yang ada di Provinsi NTB.
Selain popularitas dan elektabilitas kandidat, Median juga menggali masalah prioritas yang menurut publik harus segera di selesaikan di NTB. Berdasarkan hasil survei yang didapatkan, masalah yang paling penting harus diselesaikan di Provinsi NTB adalah perbaikan dan pelebaran jalan 20,3 persen, pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum 9,0 persen, perbaikan gang 5,5 persen, masalah irigasi 5,5 persen, dan kebersihan lingkungan 4,5 persen.
“Ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur masih menjadi PR utama bagi gubernur NTB ke depan,” ujarnya.
Kandidat yang mampu memberikan tawaran solusi dan program pembangunan dan perbaikan infrastruktur akan memiliki peluang untuk meraih simpati publik. Karena pemimpin dipilih oleh publik untuk menyelesaikan masalah publik dan membangun NTB lebih baik lagi.
Lombokpost