Setelah Masker, Giliran Jahe, Kunyit, Temulawak harganya Naik sampai 300% -->
Jum'at, 4 April 2025

Header Menu

Setelah Masker, Giliran Jahe, Kunyit, Temulawak harganya Naik sampai 300%

Sejumlah empon-empon atau rempah tradisional kini mengalami lonjakan harga. Kenaikan harga ditemui di beberapa pasar. Seperti di Pasar Kemiri Muka Depok, pedagang membanderol temulawak Rp 40.000/kg.
Setelah Masker, Giliran Jahe, Kunyit, Temulawak Dibanderol Harga Selangit
"Sekarang harganya (temulawak) Rp 40.000/kg, biasanya saya jual cuma Rp 10.000/kg," kata Suyadi salah satu pedagang Pasar Kemiri, Rabu (4/3).
Selain temulawak harga rempah-rempah yang juga melonjak adalah jahe, sereh dan kunyit. Namun kenaikan harga rempah-rempah tersebut tidak sesignifikan harga temulawak. "Jahe harganya sekarang Rp 40.000/kg dari Rp 20.000/kg. Sereh Rp 10.000/kg dari Rp 6.000/kg dan kunyit Rp 12.000/kg dari 5.000/kg," paparnya.
Permintaan rempah-rempah tersebut diakui Yadi terjadi lonjakan sejak dua hari lalu atau bersamaan dengan diumumkan adanya dua warga Depok yang terkena virus Covid-19. "Sejak senin banyak yang nyari (beli) mungkin karena ada yang kena (Corona) kemarin," ceritanya.
Dirinya terpaksa menaikkan harga jual karena harga dari Pasar Induk sudah naik. "DI Induk saja harga Rp 40.000 (temulawak) langka barangnya. Ada tapi sedikit. Jadi ya saya jualnya juga sesuai harga karena naik jadi saya naikkan juga," tuturnya.
Kenaikan harga rempah tradisional juga ditemui di Pasar Palmerah, Jakarta Barat.
Salah satu pembeli, Tri harus mengocek kantong dalam-dalam untuk satu kilogram jahe. "Abis dari pasar Palmerah harga jahe Rp80.000/kg, temulawak Rp40.000/kg," ungkap Tri.

Empon-empon Disebut Mampu Tangkal Virus Corona

Empon-empon sendiri disebut-sebut mampu menangkal virus corona yang sedang mewabah di sejumlah belahan dunia ini. Demikian diungkapkan Guru Besar Biologi Molekuler Unair Chaerul Anwar Nidom yang menemukan penangkal virus.
Nidom yang juga alumnus Unair ini berhasil menemukan penangkal virus corona dari sari rempah-rempah (curcuma). Nidom mengatakan, untuk menghadapi virus corona, masyarakat bisa mengatasinya dengan mengonsumsi makanan yang mengandung curcuma.
"Di beberapa tempat saya tawarkan apa yang bisa digunakan untuk menangkal virus corona. Kita bisa mengatasinya dengan mengonsumsi makanan maupun minuman yang mengandung curcuma seperti jahe, kunyit dan temulawak," ujar Nidom, Selasa (18/2).
Penemuan Nidom semakin menambah deretan panjang prestasi akademisi dan alumnus Unair di tingkat publik. Bahkan penemuan ini diapresiasi oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah yang juga alumnus Unair ini dengan mengunggah hasil temuan ini di akun sosial medianya.
Selain Profesor Nidom, masih banyak alumnus-alumnus Unair yang telah berperan besar dalam membawa nama baik almamaternya. Sebut saja Audrey Maximilian Herli, alumnus dari program studi S1 Sistem Informasi FST Unair berhasil masuk ke dalam jajaran 30 Under 30 Forbes Indonesia. CEO sekaligus Co-founder dari start-up Riliv ini berhasil menjadi salah satu dari 30 tokoh muda berpengaruh di Indonesia.
Di pemerintahan, ada nama Menko PMK Muhadjir Effendy dan Menteri Kesehatan Dokter Terawan. Khofifah juga merupakan Alumni Unair.
Rektor Unair Prof. Nasih mengatakan, prestasi Khofifah sudah diakui secara nasional maupun internasional. Sehingga dinobatkan sebagai alumni berprestasi tahun 2019 lalu.
"Dia (Khofifah) pantas menerima penghargaan ini. Sumbangsihnya kepada negara sudah tidak diragukan lagi," ucap Nasih.

Loading