Kepopuleran batu alam dapat tingkatkan ekonomi warga. Moment Jambore Batu Mulia Nasional juga menghadirkan keuntungan besar untuk beberapa pedagang. Acara yang berjalan Kamis (11/6) sampai Senin (15/6) itu mencatat rotasi duit yg tidak sedikit.
’’Saya telah keliling ke semua stan. Lapak yang paling belakang saja transaksinya minimum Rp 5 juta satu hari, ’’ tutur ketua panitia Christanto Wahyu tempo hari.
Menurutnya, angka itu makin besar di stan yang memamerkan batu mulia dengan keelokan yang telah populer. Misalnya, stan paling besar di jambore itu. Yaitu, stan dari Raja Ampat sebagai jujukan banyak pengunjung.
Ada pula stan dari Garut yang tempo hari dapat memperoleh Rp 25 juta dengan cuma jual lima liontin. Dalam jambore yang berjalan di Sentra Ikan Bulak (SIB) itu, ada rotasi duit yang meraih Rp 50 juta di satu lapak. Christanto menyebutkan, tingginya angka pendapatan itu jadi bukti ramainya aktivitas yang digagas pemkot itu. ’’Banyak sekali pengagum batu akik yang datang. Antusiasmenya luar umum. Saya tak menganggap, parkirnya hingga bingung, ’’ ucapnya.
Menurut Christanto, terdaftar ada 120 stan yang ikuti jambore itu. Mereka diundang untuk mewakili beberapa daerah di Indonesia. Diluar itu, diselenggarakan pertandingan. Beberapa perajin batu alam itu berlaga dalam 11 kelompok. Awalannya, tiap-tiap kelompok dibatasi untuk 50 peserta. Tetapi, karena sangat banyak yang mendaftar, kuotanya ditambah sampai 60–75 peserta per kelompok.
Bila ditotal, ada 750 batu mulia yang dilombakan. Christanto memberikan, beberapa pemenang bakal memperoleh penghargaan berbentuk piala wali kota serta duit pembinaan. Keseluruhan, ada 33 pemenang dengan satu juara umum. Sepanjang kontes, beberapa pengunjung dapat lihat pameran batu mulia. ’’Nanti yang menang pialanya diserahkan wali kota waktu penutupan jam 16. 00, ’’ katanya.
Christanto menjelaskan, kehadiran beberapa ratus perajin ke Kota Pahlawan jadi sinyal bahwa Surabaya juga mulai di kenal juga sebagai pusat batu mulia. Sampai kini beberapa pengagum batu akik dapat menaikkan koleksinya dengan beli di lokasi Tugu Pahlawan. Dia menyebutkan, Surabaya membutuhkan sentra penambahan. Terkecuali untuk tempat usaha, itu dipakai juga sebagai pusat pengembangan kekuatan beberapa perajin. ’’Pemkot dapat melatih perajin supaya dapat berkompetisi dengan batu mulia impor, ’’ tuturnya.
Menurutnya, sampai kini batu mulia lokal kalah dengan luar negeri. Umpamanya, dari Thailand serta Sri Lanka. Tetapi, saat ini batu mulia dalam negeri telah dapat menyalip. Dia mencontohkan, angka keinginan batu kelas tinggi seperti permata menyusut. Salah satu pemicunya yaitu tampilan batu Nusantara yang lebih beragam serta kaya.
Christanto mengharapkan pemkot dapat memfasilitasi sentra batu mulia dengan kursus atau serta laboratorium spesial. Karena, standardisasi batu Nusantara belum optimal, bahkan juga kalah dengan Singapura yang di kenal mempunyai standard paling baik. ’’Padahal, mereka tak mempunyai batu, ’’ tuturnya.
’’Saya telah keliling ke semua stan. Lapak yang paling belakang saja transaksinya minimum Rp 5 juta satu hari, ’’ tutur ketua panitia Christanto Wahyu tempo hari.
Menurutnya, angka itu makin besar di stan yang memamerkan batu mulia dengan keelokan yang telah populer. Misalnya, stan paling besar di jambore itu. Yaitu, stan dari Raja Ampat sebagai jujukan banyak pengunjung.
Ada pula stan dari Garut yang tempo hari dapat memperoleh Rp 25 juta dengan cuma jual lima liontin. Dalam jambore yang berjalan di Sentra Ikan Bulak (SIB) itu, ada rotasi duit yang meraih Rp 50 juta di satu lapak. Christanto menyebutkan, tingginya angka pendapatan itu jadi bukti ramainya aktivitas yang digagas pemkot itu. ’’Banyak sekali pengagum batu akik yang datang. Antusiasmenya luar umum. Saya tak menganggap, parkirnya hingga bingung, ’’ ucapnya.
Menurut Christanto, terdaftar ada 120 stan yang ikuti jambore itu. Mereka diundang untuk mewakili beberapa daerah di Indonesia. Diluar itu, diselenggarakan pertandingan. Beberapa perajin batu alam itu berlaga dalam 11 kelompok. Awalannya, tiap-tiap kelompok dibatasi untuk 50 peserta. Tetapi, karena sangat banyak yang mendaftar, kuotanya ditambah sampai 60–75 peserta per kelompok.
Bila ditotal, ada 750 batu mulia yang dilombakan. Christanto memberikan, beberapa pemenang bakal memperoleh penghargaan berbentuk piala wali kota serta duit pembinaan. Keseluruhan, ada 33 pemenang dengan satu juara umum. Sepanjang kontes, beberapa pengunjung dapat lihat pameran batu mulia. ’’Nanti yang menang pialanya diserahkan wali kota waktu penutupan jam 16. 00, ’’ katanya.
Christanto menjelaskan, kehadiran beberapa ratus perajin ke Kota Pahlawan jadi sinyal bahwa Surabaya juga mulai di kenal juga sebagai pusat batu mulia. Sampai kini beberapa pengagum batu akik dapat menaikkan koleksinya dengan beli di lokasi Tugu Pahlawan. Dia menyebutkan, Surabaya membutuhkan sentra penambahan. Terkecuali untuk tempat usaha, itu dipakai juga sebagai pusat pengembangan kekuatan beberapa perajin. ’’Pemkot dapat melatih perajin supaya dapat berkompetisi dengan batu mulia impor, ’’ tuturnya.
Menurutnya, sampai kini batu mulia lokal kalah dengan luar negeri. Umpamanya, dari Thailand serta Sri Lanka. Tetapi, saat ini batu mulia dalam negeri telah dapat menyalip. Dia mencontohkan, angka keinginan batu kelas tinggi seperti permata menyusut. Salah satu pemicunya yaitu tampilan batu Nusantara yang lebih beragam serta kaya.
Christanto mengharapkan pemkot dapat memfasilitasi sentra batu mulia dengan kursus atau serta laboratorium spesial. Karena, standardisasi batu Nusantara belum optimal, bahkan juga kalah dengan Singapura yang di kenal mempunyai standard paling baik. ’’Padahal, mereka tak mempunyai batu, ’’ tuturnya.
